Statistiche web
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa Itu Muhasabah Diri?

Ilustrasi Pria Tua Sedang Merenungi Kehidupan

Dalam suatu ceramah, seorang da'i kadang menyampaikan kata "muhasabah" yang seringkali dikaitkan dengan sebuah kesalahan, perbaikan, taubat, dan lain-lain. Sebenarnya apa itu muhasabah? 

Dalam pandangan Haris bin Asad al-Muhasibi ia menyatakan, "Pangkal ketaatan adalah sikap wara' (waspada terhadap dosa). Pangkal wara' adalah takwa. Pangkal takwa adalah muhasabah (menghisab) diri. Pangkal muhasabah diri adalah sikap khawf dan raja' (harap dan cemas kepada Allah Swt.) Pangkal khawf dan raja' adalah memahami janji dan ancaman-Nya." (Iskandar, 2021, hal. 62).

Ternyata muhasabah pernah disinggung juga oleh Umar bin Khattab Ra. bahkan kata-katanya itu terkenal yakni, "Hisablah diri kalian sebelum dihisab (oleh Allah Swt.). Timbanglah (amal) kalian sebelum ditimbang." (Iskandar, 2021, hal. 62).

Iman Hasan al-Bashri berpandangan bahwa muhasabah akan meringankan hisab pada Hari Akhir nanti. Tidak sepatutnya seorang muslim melewati hari-harinya tanpa melakukan muhasabah diri. Karena dengan muhasabah, hati akan lebih terjaga dari kelalaian, mulut akan terhindar dari ucapan buruk, dan perbuatan akan akan terjaga dari maksiat (Iskandar, 2021, hal. 63).

Secara sederhana, muhasabah adalah sikap instropeksi diri agar di depan bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Terlebih Allah Ta'ala masih memberikan hamba-Nya kesempatan untuk hidup di bumi-Nya yang tidak lain adalah kesempatan emas yang tiada bandingnya.


Kapan Waktu yang Bagus untuk Bermuhasabah?

Intinya, muhasabah dilakukan dalam dua waktu yakni sebelum dan setelah seseorang melakukan suatu perbuatan. Misal seseorang sebelum bersedekah ia merenung sejenak tentang harta yang dimilikinya dan kondisi orang kurang mampu di sekitarnya. Setelah bersedekah ia lalu merenung kembali terkait harta yang disedekahkannya apakah itu mencukupi mereka atau ada niat yang perlu diluruskan agar sedekahnya dapat dikatakan sempurna di sisi Allah Ta'ala.Mungkin Anda bertanya-tanya, adakah waktu terbaik untuk bermuhasabah? Jawabannya ada! Ibnu Qayyim dalam kitabnya yang berjudul Mukhtasyar Minhaj Al-Qashidin menyatakan, "Muhasabah diri itu sejatinya dilakukan sebelum dan setelah melakukan perbuatan." (Iskandar, 2021, hal. 63).

Muhasabah ini posisinya sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Bukan hanya setahun sekali, melainkan perlu dilakukan setiap hari bahkan setiap waktu. Ini tidak lain untuk melatih dan memberikan diri sebuah pelajaran berharga sebelum tiba masanya saat ia dihisab oleh Allah Ta'ala pada Hari Akhir nanti. Rasulullah Saw. bersabda, "Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskan. Tentang masa mudanya, untuk apa digunakan. Tentang Hartanya, dari mana diperoleh dann untuk apa dibelanjakan. Dan tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengan ilmunya itu." (HR. Tirmidzi).

Dalam bermuhasabah, seseorang sebaiknya punya waktu khusus baik itu malam atau siang hari. Hal ini dilakukan guna proses muhasabah berjalan dengan fokus dan sempurna. Intinya agar termanaje dengan baik dalam alur kehidupan seseorang.


Seberapa Penting Seseorang Bermuhasabah?

Abu Thalib Al-Makki dalam kitabnya menjelaskan bahwa generasi salafush-shalih adalah generasi yang terbiasa menghisab dirinya lebih keras daripada penghisaban seseorang atas mitranya. Karena itu sebagian ulama menyatakan, "Di antara tanda yang dibenci adalah seorang hamba banyak menyebut-nyebut aib orang lain dan melupakan aib diri sendiri: membenci orang lain atas dasar prasangka dan mencintai diri sendiri dengan penuh keyakinan: serta tidak melakukan muhasabah diri." (Iskandar, 2021, hal. 62).Jika muhasabah itu memiliki posisi penting dalam menjalani kehidupan ini, lantas efek apa yang dapat dirasakan? Jawabannya ialah keberkahan. Dikatakan demikian karena seseorang dengan adanya sesi muhasabah diri, ia dapat menumbuhkan sikap hati-hati dalam bertutur kata maupun berbuat agar semuanya sesuai dengan syariah Islam. 


Dalil Al-Qur'an & Hadits Tentang Muhasabah

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (TQS. An-Nur [24]: 31).

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..." (TQS. At-Tahrim [66]: 8).

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (TQS. Az-Zumar [39]: 53).

Selain ayat Qur'an di atas, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut (Iskandar, 2021, hal. 63):

Rasulullah Saw. bersabda kepada Aisyah Ra., "Wahai manusia, bertobatlah kalian dan beristighfarlah kepada Allah, karena sungguh aku pun bertobat kepada Allah sehari seratus kali." (HR. Muslim).

Rasulullah Saw. juga bersabda, "Sungguh Allah Swt. meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima tobat orang-orang yang berdosa pada siang harinya. Allah Swt. pun meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat orang-orang yang berbuat dosa pada malam harinya." (HR. Muslim).

Yuk bantu sebarkan artikel ini sebagai pengingat kepada yang lain. Cukup share di media sosial yang kamu aktif di dalamnya. Semoga jadi pahala jariyyah karena bisa jadi ini sebuah hidayah untuk meluluhkan hati-hati yang sedang tersesat. Semoga bermanfaat ☺


Referensi

Iskandar, Arief B. (2021). Muhasabah Diri: Media Politik dan Dakwah Al-Wa'ie Edisi 1-30 September 2021. Jakarta Selatan: Pusat Studi Politik dan Dakwah Islam.

Santri Kuping
Santri Kuping Hai! Saya Guntur saat ini bekerja di Yayasan Semangat Berdakwah Indonesia sebagai management team & pengajar di Rumah Tahfiz Indonesia. Salam kenal :)

Posting Komentar untuk "Apa Itu Muhasabah Diri?"