Statistiche web
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hukum Bekerja untuk Non Muslim


Ilustrasi Pekerja Perusahaan

Dalam menjalani kehidupan ini, bekerja merupakan usaha seseorang untuk meraih rezeki Allah Ta'ala yang kemudian dipakai untuk memenuhi kebutuhan diri dan juga keluarga. Sebagai seorang muslim, tentu kita harus teliti dan mengetahui bagaimana Islam memberikan pedoman terkait beragam jenis pekerjaan yang dibolehkan atau diharamkan, terutama bagi Anda yang sedang mencari jawaban "bolehkah bekerja untuk non-muslim?" 

Kalau Anda mau mencari jawaban "boleh atau tidaknya" maka jawabannya adalah "boleh!". Silahkan Anda tidak usah men-scroll apabila hanya itu saja yang ingin Anda dapatkan. Adapun paragraf berikutnya adalah rincian serta dalil tentang kebolehannya tersebut.


1. Hadits Kebolehan Bekerja untuk Non-Muslim

Seorang istri Nabi Saw. yakni Aisyah Ra. berkata, "Rasulullah Saw. dan Abu Bakar Ra. pernah memperkerjakan seorang laki-laki dari Bani ad-Dil sebagai penunjuk jalan yang ahli, sementara dia masih memeluk agama kaum kafir Quraisy. Beliau berdua menyerahkan hewan tunggangan mereka kepada dia dan berjanji dengan dia (bertemu) di Gua Tsur setelah tiga malam dengan membawa kedua hewan tunggangan mereka pada pagi hari ketiga." (HR. Bukhari & Al-Baghawi).

Hadits di atas cukup jelas untuk mengetahui sebab dibolehkan atau tidaknya untuk memperkerjakan non-muslim. Namun, apabila sebaliknya apakah itu juga boleh? Tentu diperbolehkan tapi dengan syarat!

Kebolehan seorang muslim bekerja untuk non-muslim baik itu Ahlul Kitab (Yahudi atau Nasrani) maupun musyrik selama pekerjaan itu tidak berurusan dengan aqidah dan ibadah. Selain itu, pekerjaan atau manfaatnya halal maka diperbolehkan. Bila sebaliknya, yakni pekerjaan atau manfaatnya haram maka tidak boleh (Rudianto, 2021, hal. 71).

Dikisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib Ra. pernah bekerja kepada orang Yahudi untuk mengairi tanamannya. Akadnya saat itu ialah ia harus menimba air dengan kompensasi sebutir kurma untuk setiap timbaannya. Kemudian, Ali bin Abi Thalib Ra. pernah memberitahukan hal itu kepada Nabi Saw. lalu beliau Saw. tidak mengingkarinya (Rudianto, 2021, hal. 71).

Reminder: Ingat sahabat! Diperbolehkan seorang muslim bekerja untuk non-muslim selagi pekerjaan atau manfaatnya tidak bertentangan dengan syariat Islam.


2. Kekuatan Hadits Kebolehan Bekerja untuk Non-Muslim

Imam Bukhari (Wafat 256 H.) meriwayatkan hadits tersebut dari Yahya bin Bukari, dari al-Laits, dari 'Uqail, dari Ibnu Syigab Az-Zuhri, dari Aisyah Ummul Mukminin Ra. di dalam kitab Shahih Bukhari, hadits nomor 2264. Kemudian, terdapat catatan juga bahwa Imam Al-Baghawi Asy-Syafi'i (Wafat 516 H.) meriwayatkannya di dalam Syarhu As-Sunnah Isti'jaru Al-Ahrari (Rudianto, 2021, hal. 70).

Hadits yang ada pada poin 1 di atas, dinyatakan juga di berbagai buku sirah antara lain Sirah Ibni Hisyam dan Sirah Ibni Katsir. Isi hadits tersebut menjelaskan dua perkara secara gamblang. Pertama, kebolehan memperkerjakan orang kafir. Kedua, kebolehan akad ijarah dalam bentuk akad mudhaf yakni akad yang pelaksanaannya pada waktu mendatang. Di dalam hadits disebutkan setelah tiga hari. Tetapi Imam Bukhari dan Baghawi menjelaskan bahwa boleh saja pelaksanaan kerja itu setelah tiga hari, satu bulan, satu tahun, intinya itu bukan sebuah batasan tetapi dikembalikan kepada kesepakatan antara majikan (al-musta'jir) dan pekerja (al-ajir) (Rudianto, 2021, hal. 71).

Terimakasih sudah berkunjung. Tinggalkan komentar Anda dan share artikel ini jika dirasa bermanfaat ☺


Referensi

Rudianto, Yoyok. (2021). Kontrak Kerja dengan Non Muslim: Media Politik dan Dakwah Al-Wa'ie Edisi 1-31 Oktober 2021. Jakarta Selatan: Pusat Studi Politik dan Dakwah Islam.

Santri Kuping
Santri Kuping Hai! Saya Guntur saat ini bekerja di Yayasan Semangat Berdakwah Indonesia sebagai management team & pengajar di Rumah Tahfiz Indonesia. Salam kenal :)

1 komentar untuk "Hukum Bekerja untuk Non Muslim"