Statistiche web
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pentingnya Mengajari Anak Mengelola Keuangan dalam Islam


Ilustrasi Orang Menabung

Seperti banyak orang ketahui bahwa siapapun yang hidup di zaman ini merupakan kehidupan yang serba uang. Maksudnya, setiap orang disibukkan atas dasar materi yaitu untuk mencari uang dan menghabiskannya. Kalau Anda masih belum juga paham, saya ucapkan selamat datang di sistem Kapitalis sebagai dasar dalam pengelolaan perekonomian dunia.

Lantas apa hubungannya dengan dunia Parenting?

Pertama, saya mau menjelaskan kalau anak sekalipun belum mukallaf perlu diajari oleh kedua orangtuanya tentang tatacara mengelola keuangan. Hal itu penting agar tatkala usia baligh nanti sang anak bisa mandiri serta bisa bertanggungjawab dalam mengelola keuangannya terlebih ketika beranjak dewasa nanti.

Kedua, terdapat catatan untuk para orangtua bahwa sistem ekonomi dunia yang berkiblat kepada Kapitalisme telah mendorong manusia untuk hidup mengejar uang sehingga tujuan akhir dari kehidupannya ialah mencari uang. Termasuk dalam dunia Parenting, puncaknya sang anak akan diajarkan bagaimana ia bisa mencari uang dan pengelolaan keuangan berlandaskan para pakar Kapitalis.

Sederhananya sang anak di masa depan akan menjadi aset Kapitalis dalam mengelola keuangan serta dapat menguntungkan kelanggengan mereka. Seperti halnya anak-anak yang didoktrin untuk menabung di bank atau belajar investasi berbasis bunga yang jelas-jelas melanggar syariat Islam.


Lantas bagaimana Islam mendidik generasi muda dalam perkara keuangan?

Silahkan untuk menyimak tuntas artikel berikut ini. Semoga bermanfaat 😊


1. Makna Uang dalam Pandangan Islam

Anak perlu diajarkan terlebih dahulu makna rezeki dalam sudut pandang Islam. Hal itu bisa ditemukan di dalam QS. Hud [11]: 6 sebagai berikut:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

"Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."

Para orangtua perlu mengetahui dan mengajarkan anak-anaknya bahwa uang merupakan rezeki yang Allah Ta'ala berikan kepada hamba-hamba-Nya. Adapun bekerja merupakan cara mencapainya. Rezeki merupakan ketetapan Allah, dalam mendapatkan rezeki (bekerja) seseorang tidak boleh melalaikan Allah dengan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim seperti meninggalkan shalat, dakwah, dsb. Tidak boleh juga seseorang memperoleh rezeki dengan cara yang dilarang oleh syariah seperti mencuri, menipu, dan lain sebagainya (Retnaningsih, 2021, hal. 37).

Orangtua harus bisa memberikan pemahaman kepada anak terkait konsep keberkahan rezeki. Rezeki bukan bergantung pada banyaknya harta melainkan tentang bagaimana cara memperoleh serta memanfaatkannya sebagaimana yang sudah Allah tetapkan dalam syariat-Nya. Selain itu, anak juga harus memahami hakikat rezeki bahwa rezeki tidak selalu dalam bentuk uang. Karena bisa jadi rezeki yang Allah berikan berupa kesehatan, kasih sayang, kepandaian, dan lain sebagainya (Retnaningsih, 2021, hal. 37-38).


2. Menanamkan Anak Tentang Kepemilikan & Pengelolaan Uang

Orangtua semestinya bisa memahamkan anaknya tentang apa saja yang menjadi sebab kepemilikan serta tatacara pengelolaan harta yang dibolehkan oleh syariah. Imam Taqiyuddin menjelaskan dalam kitabnya bahwa Islam membatasi sebab-sebab kepemilikan harta dengan bekerja, waris, kebutuhan atas harta untuk menyambung hidup, santunan negara dan harta yang diperoleh tanpa kompensasi seperti hadiah dan hibah (Retnaningsih, 2021, hal. 37-38).

Pentingnya orangtua memberikan pemahaman tentang sebab kepemilikan agar sang anak bisa menjadi orang yang ulet dan mandiri dalam bekerja. Terutama anak laki-laki yang kelak akan mencari nafkah di kemudian hari. Orangtua perlu mengajarkan anak-anaknya untuk kreatif, tidak malas serta menghargai uang (Retnaningsih, 2021, hal. 37-38).

Dalam Islam, pengelolaan harta dapat dilakukan dengan cara jual-beli, pertukaran, menabung, pinjam-meminjam, memberikan kepada orang lain dan sebagainya. Islam melarang keras seseorang yang mencari harta dengan cara mencuri, korupsi, menjual diri, berjudi, riba, termasuk cara-cara lain yang mengandung kedzaliman (Retnaningsih, 2021, hal. 38).

Simak artikel berikutnya yang berjudul Pengelolaan Harta yang Dilarang dalam Islam


Referensi

Retnaningsih, Arini. (2021). Mendidik Anak Mengelola Keuangan: Media Politik dan Dakwah Al-Wa'ie Edisi 1-30 September 2021. Jakarta Selatan: Pusat Studi Politik dan Dakwah Islam.

Santri Kuping
Santri Kuping Hai! Saya Guntur saat ini bekerja di Yayasan Semangat Berdakwah Indonesia sebagai management team & pengajar di Rumah Tahfiz Indonesia. Salam kenal :)

Posting Komentar untuk "Pentingnya Mengajari Anak Mengelola Keuangan dalam Islam"