Statistiche web
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wahai Atasan, Janganlah Engkau Dzalim!

Ilustrasi Tangisan Seorang Pekerja

Dalam bekerja pasti ada yang namanya atasan dan bawahan. Peran keduanya sama-sama penting dan saling membutuhkan layaknya sifat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Dalam artikel kali ini, saya ingin menganalogikan bahwa perusahaan adalah sebuah pemerintahan kecil dan pekerja di dalamnya merupakan rakyat. Dalam berjalannya sebuah negara, terkadang pemerintah berlaku dzalim (tidak adil) kepada rakyatnya. Sampai-sampai mereka rela merugikan rakyatnya sendiri demi kebijakan yang hanya menguntungkan golongan mereka saja.

Tentu hal itu membuat rakyat geram sehingga mengundang demontrasi, aksi protes hingga anarkisme. Sadarkah Anda bahwa perusahaan juga begitu? Terkadang atasan berbuat seenaknya mentang-mentang perusahaan didirikan atau dikendalikannya sehingga pekerja di bawahnya wajib berlutut dan bungkam di hadapannya. Ingat kawan, itu namanya Tirani kalau rakyat tidak boleh bersuara!

Tahukah Anda bahwa Islam sudah memberi peringatan kepada pemegang/pengendali perusahaan tentang hal ini. Cobalah simak sejenak terjemah hadits berikut ini.

"Ada tiga golongan yang Aku menjadi lawan perkara mereka pada Hari Kiamat: laki-laki yang memberi (perjanjian atau sumpah) karena-Ku lalu dia melanggar; laki-laki yang menjual orang merdeka dan dia makan harganya; dan laki-laki yang memperkerjakan seorang ajir (pekerja) dan pekerja itu telah menunaikan (pekerjaan) untuk dirinya, tetapi dia tidak memberikan upah kepada dirinya." (HR. Bukhari dan Baghawi).

Dalam dunia kerja, akad kerja adalah bagian penting dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Seperti posisi kerja seseorang, waktu kerja, dan hal apa saja yang harus dikerjakannya dan lain sebagainya. Oleh karena itu, atasan tidak boleh bersikap semena-mena terhadap pekerja yang sudah susah payah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kemajuan perusahaan.

Kembali lagi kepada pembahasan hadits di atas, dijelaskan bahwa hadits tersebut merupakan hadits yang memuat sebuah berita yang maknanya berisikan larangan karena berita di dalamnya berkaitan dengan celaan. Larangan di dalamnya disertai qarinah jazim yang maksudnya bahwa perkara tersebut diperkarakan Rasul Saw. hingga Hari Kiamat. Kemudian, hadits tersebut bersifat tegas serta apa yang diberitakan di dalamnya merupakan sebuah keharaman (Rudianto, 2021, hal. 64).

Apabila kita perdalam redaksi hadits di atas, maka ada tiga poin yang bisa kita ambil hikmah di dalamnya. Pertama, dilarang melanggar perjanjian atau sumpah karena Allah. Kedua, dilarang menjual orang merdeka serta memanfaatkan/memakan harganya. Ketiga, dilarang lalai memberikan upah kepada pekerja yang sudah menunaikan pekerjaan yang diakadkan.

Itulah sederet nasihat singkat untuk atasan perusahaan kepada karyawannya. Semoga bermanfaat ☺


Referensi

Rudianto, Yoyok. (2021). Kebolehan Kontrak Kerja: Media Politik dan Dakwah Al-Wa'ie Edisi 1-30 September 2021. Jakarta Selatan: Pusat Studi Politik dan Dakwah Islam.

Santri Kuping
Santri Kuping Hai! Saya Guntur saat ini bekerja di Yayasan Semangat Berdakwah Indonesia sebagai management team & pengajar di Rumah Tahfiz Indonesia. Salam kenal :)

Posting Komentar untuk "Wahai Atasan, Janganlah Engkau Dzalim!"