Statistiche web
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Sukses Mendidik Anak Usia Dini

Ilustrasi: Freepik

Ayah-bunda yang dirahmati Allah Ta'ala, cobalah ingat kembali bagaimana kesan yang dirasakan ketika sang buah hati yang telah lama dinanti telah hadir di hadapan kita? Tentu rasa senang, haru, sampai tetesan air mata menjadi satu tatkala si kecil itu hadir untuk menjadi pelengkap anggota keluarga. Tangis kehadirannya bukan membuat kita sedih melainkan membawa sebuah ketentraman pada hati serta kebahagiaan di masa depan.

Sang bunda yang telah merawatnya dalam kandungan selama 9 bulan lamanya pun menjadi lega ketika ia bertemu dengan si kecil imut yang suka "mengetuk-ngetuk" ketika ia masih berada di dalam kandungan.

Sahabat yang dirahmati Allah Ta'ala, memiliki anak merupakan sebuah kebahagiaan yang tiada tara. Bahkan kita pun turut berbahagia ketika ada hewan yang melahirkan anak-anaknya yang lucu & imut. Maka dari itu sebuah kehinaan dan kelainan apabila ada orangtua yang tega membuang anaknya terlebih karena didasari oleh hubungan gelap mereka.

Banyak orang yang menginginkan kehadiran anak untuk mewarnai kehidupan dalam menjalani bahtera rumah tangga. Termasuk penulis sendiri yang mana istri telah 2x keguguran saat si kecil masih di dalam kandungan. Selamat jalan Fatih, selamat jalan Firdaus. Semoga kita dapat bertemu di jannah-Nya nanti.

Perlu diketahui bahwa menjadi orangtua wajib berilmu agar tidak salah dalam mengasuh anak-anaknya. Oleh karena itu Islam sangat menegaskan agar setiap muslim cinta akan ilmu agar hidup tidak tersesat sekaligus agar hidup bisa berjalan sesuai syariat-Nya. Lantas bagaimana agar anak menjadi pahala jariyyah bagi orangtuanya? Simak sampai tuntas ulasan berikut ini.


A. Dasar dalam Mendidik Anak

Hal utama yang perlu diketahui oleh ayah-bunda yakni mengetahui urgensi tentang pendidikan anak dalam Islam. Orangtua pada dasarnya tidak sebatas membesarkan anak tapi juga dibarengi dengan bagaimana membimbing mereka dalam mengembangkan potensinya. Dan yang sering dilupakan ialah tentang peran orangtua dalam mengantarkan anak kepada ketaatan terhadap syariat Allah & Rasul-Nya.

Sebagai contoh ialah anak-anak yang hidup di perkotaan, mereka dibesarkan oleh orangtuanya terbilang sukses dari segi IPTEK. Tapi ketika dewasa rata-rata mereka jauh dari keagamaan bahkan mengaji saja tidak bisa. Tentu ini memalukan!

Mungkin anak-anak di pedesaan sedikit tertinggal alias gaptek dari yang namanya IPTEK. Akan tetapi, mereka sudah dibekali dasar ilmu agama yang kuat sejak dini sehingga perkara dunia tinggal mereka pelajari dikemudian hari.

Perlu ayah-bunda ketahui kalau seseorang jauh dari agama dapat menjadi sebab kekacauan dalam kehidupan bernegara. Hal itu bisa dilihat dari fenomena pergaulan bebas di negeri-negeri barat seperti maraknya free sex, narkoba, tawuran, prostitusi hingga merambat kepada akhlak buruk dalam memerintah negara seperti korupsi, kolusi, nepotisme dan seterusnya.

Jika sedari kecil anak sudah diberi kehidupan yang "liar" maka bersiaplah tentang masa depan sebuah negara yang sama "liarnya" akibat dari perbuatan ayah-bunda yang membebaskannya itu. Oleh karena itu Islam memiliki konsep atau pola asuh dalam mendidik anak.


B. Indikator Kesuksesan dalam Mendidik Anak

Hal kedua yang penting diketahui bahwa dalam mendidik anak dengan rentang usia 4-6 tahun ayah-bunda harus memiliki indikator-indikator kesuksesan dalam mendidiknya antara lain ialah:

1. Anak telah mengenal Allah dan Rasul-Nya serta rukun iman/Islam sebagai dasar keagamaan

2. Anak sudah bisa menghafal juz 'amma

3. Anak dapat mengerjakan shalat dengan sempurna disertai gerakan dan bacaannya

4. Anak dapat menghafalkan hadits dan doa sehari-hari

5. Anak mengenal konsep sebab perbuatan seperti pahala dan surga bagi muslim yang shalih dan mengerjakan segala kewajibannya, begitu pun sebaliknya

6. Anak sudah memiliki kemampuan bekerjasama dalam kelompok

7. Sudah memiliki kepercayaan diri dan jiwa kepemimpinan

8. Terbiasa menutup aurat dan menjalankan syariah islam lainnya

9. Memiliki motorik halus dan kasar yang berimbang sehingga memiliki kesiapan untuk berlatih disiplin

10. Sudah mulai terbentuk metode aqliyyah dalam berpikir yang benar

11. Memiliki kesiapan untuk fokus dalam belajar dan minat belajar yang tinggi


Itulah sederet to do list yang harus dilakukan ayah-bunda dalam mendidik anak. Diusahakan ayah-bunda dapat bekerjasama mengasuh si kecil dan memiliki lembar to do list dalam bentuk ceklis harian guna memudahkan apa saja dan kapan saja yang harus ayah-bunda kerjakan bersama anak. Sehingga bunda ketika di rumah tidak hanya rebahan dan menonton sinetron saja. Karena kebanyakan bunda-bunda yang memiliki anak kecil di rumah seakan-akan mendidik mereka hanya ketika si anak melakukan kesalahan saja. Padahal si anak belum dibimbing dan dibiarkan mengeksplor sesuka hati. Kalau kata orang Sunda "yang penting anteng".

Memang ada waktunya si anak bermain sendiri, tapi bunda juga tidak boleh bermalas-malasan. Ketika anak nangis baru bergerak, ketika anak mau makan baru bergerak, ketika anak jatuh atau terpeleset baru bergerak. Kalau sang bunda menyayanginya maka ajaklah anak belajar sambil bermain agar tumbuh kebiasaan positif dan anak semangat dalam belajar.


C. Berfokus Pada Potensi Anak

Orangtua seringkali berfokus pada kesalahan yang dilakukan sang anak. Anak memiliki kesalahan memanglah wajar karena mereka butuh pendampingan dari ayah-bundanya. Akan tetapi, terkadang kita jumpai adanya anak yang selalu membangkang, sulit dinasihati dan sebagainya. Ternyata hal itu ada yang salah dalam pola asuh yang dilakukan orangtuanya.

Hal itu demikian dikarenakan ketika orangtua mendapati anak melakukan kesalahan, rata-rata ayah-bunda memarahinya karena kesal ataupun kecewa. Tapi apabila itu keseringan justru mental sang anak akan terus membangkang sejadi-jadinya alias kebal dengan amarah-amarah orangtuanya. Begitu pun sebaliknya bisa jadi sang anak lembek (sering sedih/menangis) dan mudah tersinggung karena pola asuh orangtuanya juga saat si anak melakukan kesalahan.

Lantas bagaimana bila anak melakukan kesalahan? Pertama, orangtua harus memahami terlebih dahulu bahwa setiap manusia memiliki naluri gharizah al-baqo yakni naluri mempertahankan diri yang dimiliki oleh manusia. Apabila anak membela dirinya dengan cara membangkang dan seterusnya itu adalah bagian dari cara mereka mempertahankan diri namun berujung negatif.

Cara yang tepat untuk mendidik anak bila melakukan kesalahan ialah gunakan cara persuasif seperti mendekatinya dan mengajaknya bicara. Setelah itu mengarahkan dan memotivasi terkait perbuatan agar tidak terulang lagi. Misal apabila anak sering kesiangan shalat Shubuh maka ajaklah dialog. Ajarkan tentang keutamaan waktu shubuh dan pentingnya menegakkan shalat 5 waktu. Apabila sang anak mulai paham, fasilitasi juga misal dengan membelikannya jam weeker baru atau apabila dalam sebulan shalatnya 5 waktu diberi hadiah baju, tas, mainan dengan mengajaknya ke mall secara langsung agar mereka senang dan memilihnya sesuai keinginannya.

Tentu hal di atas dapat disederhanakan terkait opsi hadiahnya. Yang jelas orangtua harus rela berkorban karena itu bagian dari penanaman akhlak dan dapat berefek pada masa depan sang anak. Apabila suatu saat timbul rasa malas pada diri anak, maka yang perlu dilakukan ayah-bunda adalah terus membimbingnya, memotivasinya, dan lakukan dengan cara-cara kreatif. Misalnya apabila anak mulai malas belajar di rumah, maka ajaklah belajar di luar rumah. Apabila sang anak mulai malas mendirikan shalat, cobalah ajak berdialog dan temukan masalahnya apa. Terus semangat ya ayah-bunda dalam mendidik anak, karena tatkala kita wafat nanti merekalah yang dapat menjadi penolong kita. Jadikanlah buah hati sebagai penyejuk di dunia & akhirat.


Referensi:

Tanjung, Yanti. (2016). Menyiapkan Anak Tangguh Stimulasi Dini Kepribadian Islam Anak. Bogor: Al-Azhar Fresh Zone Publishing.

Santri Kuping
Santri Kuping Hai! Saya Guntur saat ini bekerja di Yayasan Semangat Berdakwah Indonesia sebagai management team & pengajar di Rumah Tahfiz Indonesia. Salam kenal :)

Posting Komentar untuk "Cara Sukses Mendidik Anak Usia Dini"