Statistiche web
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Batasan Aurat Perempuan dan Laki-Laki dalam Islam

Ilustasi: Freepik

Sahabat mungkin tidak asing dengan bahasan ini. Walau demikian, ternyata masih banyak sekali kaum muslimin yang menyepelekan kewajiban dalam menutup aurat saat menjalani kehidupannya sehari-hari. Dikatakan miris tentu miris, sudah tahu itu kewajiban tapi masih saja disepelekan.

Terkadang orang-orang juga menyepelekan penggunaan pakaian syar'i karena tergiur oleh fashion yang padahal itu justru bukan malah menutup auratnya secara sempurna melainkan hanya membungkus sehingga lekuk tubuh masih terlihat, aurat masih nampak, dan tentu berdosa bagi mereka yang sudah baligh apabila mengabaikan perkara ini.

Bila Anda masih ada pikiran/pendapat bahwa Islam adalah agama yang sulit atau banyak peraturan berarti ada yang salah dalam pendidikan Anda. Barangkali sebab lainnya ialah ilmu Anda belum utuh dan itu banyak terjadi. Islam memiliki syariat (peraturan/hukum) karena Islam adalah pedoman dalam menjalani hidup. Bila Anda mau berpergian pasti Anda harus menghafal jalannya, bila Anda mau memasak maka Anda harus tahu bahan dan bumbunya, bila Anda mau belajar maka Anda juga harus mempersiapkan alat tulis dan seterusnya.


A. Aurat dan Penjelasannya

Berkenaan dengan bahasan ini, Dr. Fuad dalam kitabnya menjelaskan pengertian aurat bahwa secara bahasa (bahasa Arab) disebut awira, aara, dan a'wara. Diambil dari kata awira yang berarti hilang perasaan. Dijelaskan bahwa kata tersebut mengarah kepada sesuatu yang tidak baik dan dipandang memalukan/mengecewakan. Maksudnya, jika kata ini dipakai untuk mendefinisikan aurat maka relevansinya dengan pandangan (mata) yang berarti mata tersebut hilang cahayanya dan lenyap pandangannya.  Sehingga dapat dikatakan bahwa aurat adalah sesuatu yang mengecewakan dan tidak dipandang baik.

Kedua, diambil dari kata aara yang artinya menutup/menimbun. Dikatakan demikian karena aurat merupakan sesuatu yang ditutup dan ditimbun hingga tidak dapat dilihat dan dipandang oleh orang lain.

Ketiga, diambil dari kata a'wara yang berarti sesuatu yang jika dilihat akan mencemarkan. Maskudnya ialah aurat diartikan sebagai sesuatu pada anggota tubuh yang harus ditutup dan dijaga hingga tidak menimbulkan kekecewaan dan malu.


B. Batasan Aurat Laki-Laki & Perempuan

Dalil-dalil berkenaan batasan aurat tentunya dapat kita jumpai di dalam Al-Qur'an. Perlu diketahui, dalam mengkaji Al-Qur'an kita tidak boleh sembarangan dalam menafsirkannya apalagi hanya membaca terjemahannya saja. Sebagai orang awam, kita dianjurkan untuk mengikuti pendapar para ulama agar tidak salah tafsir dalam mengamalkannya.

Perintah menutup aurat terdapat di dalam Al-Qur'an di Surah An-Nur ayat 30-31 dan Al-Ahzab ayat 59. Adapun Asbabun Nuzul terkait perintah atau kewajiban menutup aurat terdapat di dalam Surah Al-A'raaf ayat 22 yang ketika itu Nabi Adam dan Siti Hawa memakan buah khuldi yang terlarang hingga tampak aurat mereka dan Allah menegur mereka dan mereka menutupi apa yang nampak dengan daun-daun surga 

Terkait batasan aurat dijelaskan bahwa sebagian ulama Hanafi dan khususnya Imam Abu Hanifah itu sendiri berpendapat bahwa yang bukan tergolong aurat perempuan adalah wajah, telapak tangan, dan kaki. Kaki yang dimaksud adalah qadam yakni tumit kaki ke bawah. Alasannya ialah qadam merupakan kedaruratan yang tidak bisa dihindarkan. Oleh karena itu, perempuan yang mengikuti pendapat Imam Hanafi mencukupkan shalat menutup auratnya tanpa harus menggunakan kaus kaki. 

Mayoritas ulama mengatakan bahwa aurat perempuan ialah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan sehingga kaki juga dikatakan bagian dari aurat yang harus ditutupi menggunakan kaus kaki baik saat shalat maupun diluar shalat. Adapun perinciannya ialah sebagai berikut.

1. Di dalam kitab Asy-Syarhush Shaghir atau dikenal juga dengan sebutan Aqrabul Masalik ilaa Mazhabi Maalik menjelaskan bahwa susunan ad-Dardiri yang menjadi pegangan mazhab Maliki dalam batas aurat perempuan merdeka di hadapan laki-laki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh badan, kecuali muka dan telapak tangan.

2. Di dalam kitab Al-Muhazzab, Asy-Syairazi sebagai ulama bermazhab Syafi'i menjelaskab bahwa aurat perempuan merdeka adaah seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan.

3. Dari kalangan Zahiri terdapat pendapat yang dikemukakan oleh Daud bahwa batas aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Hal itu dikemukakan di dalam Nailur Authar. Begitu juga Ibnu Hazm yang mengecualikan wajah dan telapak tangan sebagaimana tertulis di dalam kitab Al-Muhalla.

4. Para Mufasir seperti Imam Ath-Thabari, Qurthubi, Razy, Baidhawi, dan lainnya sepakat mengatakan bahwa batas aurat perempuan itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Singkatnya, mayoritas dari pendapat yang ada terkait batasan aurat wanita ialah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Adapun perbedaan bahwa kaki tidak termasuk aurat dikemukakan oleh Mazhab Hanafi dengan pengecualian yakni qadam yakni tumit kaki ke bawah. Selanjutnya, terkait batasan aurat laki-laki para ulama sepakat bahwa aurat laki-laki berada di pusar sampai lutut. 

Lantas pendapat mana yang harus kita ambil? Dalam hal fiqih sebaiknya kita mengikuti mazhab mayoritas di suatu negeri yang kita singgahi. Di Indonesia sendiri fiqih yang banyak diikuti adalah fiqih mazhab Imam Asy-Syafi'i sehingga sebaiknya kita mengikuti apa yang diarahkan dalam fiqih Syafi'i.


C. Hukum Lansia yang Tidak Menutup Aurat

Barangkali di antara kita penasaran bagaimana hukumnya apabila ada lansia yang tidak menutup auratnya ketika di ruang publik? Terdapat penjelasan bahwa lansia yang telah putus haid, tidak ada keinginan menikah lagi, tua renta diperbolehkan kepada mereka menanggalkan atau melepas pakaian (tsauh). 

Apa itu tsauh? Tsauh adalah pakaian ketika perempuan sedang di dalam rumah ketika perempuan sedang bersama mahramnya selama dalam hayatul khassah (kehidupan khusus) yang di dalamnya tidak ada lelaki ajnabi (lelaki asing). Pakaian tsauh ini menutupi pusar sampai lutut. Walau demikian, perempuan dianjurkan untuk tetap menutup setiap bagian tubuhnya yang bisa menimbulkan syahwat bagi lawan jenisnya (laki-laki). Terkait tsauh dapat ditemukan di dalam QS. An-Nur ayat 60 sebagai berikut.

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاۤءِ الّٰتِيْ لَا يَرْجُوْنَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ اَنْ يَّضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجٰتٍۢ بِزِيْنَةٍۗ وَاَنْ يَّسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

"Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

Ayat di atas banyak dinukil di kitab-kitab para ulama seperti Imam Muhammad Abu Zahrah dalam kitab Ushulul Fiqh hlm. 164-167, Abdul Wahab Khallaf dalam kitab Ilmu Ushul Fiqh hlm. 143-153, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Asy-Syahsiyatul Islamiyah jilid 3 hlm. 178-179.

Masih banyak bahasan rincinya terkait aurat yang insya Allah akan dilanjutkan pada sesi berikutnya. Semoga artikel ini bermanfaat, silahkan share sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan pahala jariyyah karena hak cipta hanyalah milik Allah semata.


Referensi:

Khamzah, Siti Nur. (2011). Puaskan Matamu Dengan Auratku!. Yogyakarta: DIVA Press.

Santri Kuping
Santri Kuping Hai! Saya Guntur saat ini bekerja di Yayasan Semangat Berdakwah Indonesia sebagai management team & pengajar di Rumah Tahfiz Indonesia. Salam kenal :)

Posting Komentar untuk "Mengenal Batasan Aurat Perempuan dan Laki-Laki dalam Islam"