Statistiche web
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sedekah itu Bagian dari Iman

 

Ilustrasi: Freepik

Sahabat yang dimuliakan Allah Ta'ala, tahukah Anda apa itu sedekah? Mungkin hal ini tidak asing di telinga kita, tapi terkadang kita enggan untuk mengeluarkan harta kita sebagai pengorbanan di jalan Allah. Kebanyakan dari kita justru asik dengan urusan menghambur-hamburkan harta dengan gaya hidup mewah ketimbang bersedekah. Apakah Anda setuju?

Perlu sahabat ketahui bahwa sedekah banyak sekali keutamaan yang kelak kita dapatkan. Allah akan balas sedekah kita baik melalui pertolongan-Nya ketika kita masih hidup di dunia atau nanti di akhirat. Oleh karena itu, penting sekali sahabat menyimak secara tuntas artikel ini agar diberikan semangat serta keringanan dalam menjalankan amal yang satu ini. Silahkan baca basmallah terlebih dahulu 😊


A. Pengertian & Hukum Sedekah

Sedekah dalam bahasa Arab disebut sebagai "shadaqoh" yang artinya suatu pemberian yang diberikan seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi waktu dan jumlah tertentu. Para fuqaha (ahli fikih) menyebutnya dengan istilah sadaqah at-tatawwu' yakni pemberian yang dilakukan secara spontan dan sukarela yang mengharap ridha serta pahala dari Allah Ta'ala.

Terkait sedekah, Allah Ta'ala berfirman di dalam QS. An-Nisaa [4] ayat 114 sebagai berikut.

 لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

"Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar."

Dalil-dalil terkait anjuran sedekah tidaklah main-main jumlahnya karena tidak sedikit jumlahnya. Oleh karena itu, para fuqaha sepakat bahwa sedekah dihukumi sunnah yakni berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa bila tidak dilakukan. Akan tetapi, terdapat catatan karena sedekah juga bisa jatuh kepada keharaman bahkan wajib hukumnya tergantung kondisi atau situasi yang ada.

Sedekah dikatakan haram apabila kita bersedekah mengetahui secara pasti bahwa orang yang akan menerima pemberian (sedekah) akan menggunakan harta tersebut untuk kemaksiatan. Adapun sedekah bisa dikatakan wajib hukumnya apabila misalnya kita bertemu dengan orang lain yang sedang butuh pertolongan atau sedang dalam kondisi darurat seperti sedang kelaparan yang dapat mengancam jiwanya, sementara kita saat itu mempunyai kelebihan makanan. Maka posisi kita saat itu dikenakan kewajiban untuk bersedekah kepada orang tersebut yang membutuhkan pertolongan.

Selain itu, sedekah dikatakan juga wajib apabila kita sebelumnya telah bernadzar (berjanji) atas nama Allah. Misal apabila seseorang setelah sembuh dari sakitnya ia bernadzar akan bersedekah kepada seseorang atau lembaga, maka setelah ia sembuh dikenakan kewajiban tersebut untuk segera menunaikannya. Maka dari itu, berhati-hatilah dalam bernadzar apalagi sampai melupakan janjinya itu karena itu dikatakan sebagai hutang yang wajib dibayar. Dalam suatu referensi, disebutkan bahwa sebenarnya para ulama tidak mengajurkan seseorang dengan mudah untuk bernadzar karena khawatir ia justru sebaliknya dan malah merugikan dirinya sendiri. Intinya, jangan sembarangan apabila belum mengetahui ilmunya.


B. Sedekah yang Utama

Bila sahabat mencari tahu kapan waktu terbaik untuk bersedekah maka jawabannya adalah di waktu shubuh. Oleh karena itu, tidak heran kalau kita melihat adanya komunitas atau lembaga yang memiliki gerakan sedekah shubuh dan lain sebagainya. Tentunya hal itu salah satu sarana sekaligus syiar tentang pentingnya bersedekah agar kaum muslimin selalu ingat bahwa harta yang dimiliki, digunakan, dimakan sejatinya milik Allah Ta'ala.

Para fuqaha menjelaskan bahwa sebaik-baiknya bersedekah ialah dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau diam-diam dibandingkan secara terang-terangan seperti diberitahukan atau diberitakan kepada khalayak umum terkait orang dan jumlah harta yang disedekahkan. Hal itu demikian karena Allah juga berfirman di dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 264 sebagai berikut.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa sedekah yang dilakukan akan sia-sia apabila kita melakukan sebab-sebab yang disebutkan tadi yakni riya (pamer). Dikhawatirkan kalau sedekah diberitahukan atau diumumkan kepada orang banyak akan membuat celakanya hati kita sebagaimana dijelaskan pada ayat tersebut yakni dengan munculnya penyakit riya dan ingin disanjung (ujub) sehingga melenceng dari niat seharusnya.

Selain dilakukan secara diam-diam, lantas apalagi arahan berikutnya? Jawabannya ialah sedekah diberikan kepada orang-orang terdekat terlebih dahulu dan ini yang lebih utama. Orang-orang terdekat yang dimaksud antara lain ialah kerabat atau sanak saudara yang pada intinya keluarga besar kita. Hal itu demikian karena kita secara pasti mengetahui apa kebutuhan dan penggunaan harta yang akan dilakukan. Namun bukan berarti kita dilarang bersedekah kepada orang lain dan selevel lembaga/yayasan.

Adapun jika sahabat ingin bersedekah kepada lembaga/yayasan maka hal yang harus sahabat lakukan ialah mencari tahu kredibilitas lembaga tersebut. Biasanya lembaga resmi akan memiliki payung hukum yang terdaftar di pemerintah sebagai legalitasnya. Sahabat juga boleh saja memberinya kepada komunitas-komunitas pinggir jalan atau paguyuban asalkan sahabat mengetahui ada orang yang kita kenal di dalamnya dan mempercayakan harta sedekahnya untuk dipakai di jalan kebaikan.

Jadi kesimpulannya apabila sahabat mau bersedekah kepada seseorang atau sekelompok orang bahkan tidak dikenal, maka hal yang penting pertama kali ialah kenalan. Hal kedua tentunya mengetahui siapa saja orang di dalamnya (siapa tahu ada yang kita kenal sebagai dasar analisis). Hal ketiga, pantau aktivitas atau perkembangannya agar kita selalu terhubung dengan mereka. Namun, hal yang pasti perlu kita ingat apabila kita bersedekah ialah dilakukan secara sukarela sehingga kita sebagai pelaku sedekah tidak mengharap timbal-balik selain ridha dari Allah Ta'ala.


C. Manfaat dan Keutamaan Sedekah

Biasanya inilah poin yang ditunggu-tunggu oleh para pembaca. Ibarat garis finish setelah menyimaknya mulai dari dasar dan hukumnya. Saya ingatkan, baca dan pahami dulu poin-poin sebelumnya secara tuntas! Karena penuntut ilmu yang baik itu bertahap, bukan semaunya ia loncat-loncat bab yang belum ia pelajari karena dikhawatirkan terjadinya distorsi dan reduksi pemahaman.

1. Menjadi Amal Kebaikan

Allah berfirman di dalam QS. An-Nahl [16] ayat 96 sebagai berikut.

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَاقٍۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْٓا اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

"Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

Apabila sahabat pahami ayat di atas, jelas dan gamblang dikatakan Allah bahwa amalan sedekah akan kekal di sisi-Nya dan dijanjikan akan dibalas dengan yang lebih baik. Oleh karena itu, mengapa sedekah disebut sebagai bagian dari iman karena kita harus percaya terhadap datangnya pertolongan Allah lewat jalan sedekah karena hal ini sebagai suatu pengorbanan yang spontan dan sukarela.

2. Penghapus Dosa

Allah berfirman di dalam QS. Al-Ankabut [29] ayat 7 sebagai berikut.

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَحْسَنَ الَّذِيْ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, pasti akan Kami hapus kesalahan-kesalahannya dan mereka pasti akan Kami beri balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan."

Selanjutnya terdapat hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Bersedekahlah kalian walaupun hanya sebiji kurma, sebab sedekah mampu memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan dan memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api." (HR. Ahmad).

Terjawab sudah ya apabila para pembaca mencari relevansi tentang judul di atas dengan isi konten di dalamnya. Sedekah disebut bagian dari iman karena hal ini berhubungan erat dengan pertolongan Allah Ta'ala. Apabila kita bersedekah tidak dibarengi dengan ilmu, tentu kita akan bingung bahkan "menagih" agar orang yang ditolong bisa menolong balik di kemudian hari. Padahal sekali lagi perlu ditegaskan, sedekah itu sifatnya spontan dan dilakukan dengan sukarela yang tidak mengharapkan imbalan dari manusia melainkan ridha Allah Ta'ala.

Pembahasan tentang manfaat dan keutamaan sedekah bisa sahabat pelajari selengkapnya dengan cara klik "7 Manfaat dan Keutamaan Sedekah" 


Referensi

Idaini, Mohammad Wifaqul. (2017). Rahasia Amalan Suami Istri Pembawa Rezeki Kiat Menjadi Pasangan Bahagia dan Berlimpah Kekayaan. Yogyakarta: Araska.

Santri Kuping
Santri Kuping Hai! Saya Guntur saat ini bekerja di Yayasan Semangat Berdakwah Indonesia sebagai management team & pengajar di Rumah Tahfiz Indonesia. Salam kenal :)

Posting Komentar untuk "Sedekah itu Bagian dari Iman"